Hamba Allah yang Terbaik Menurut Al-Qur'an

11 Karakteristik Hamba Allah yang Terbaik Menurut Al-Qur'an

https://goo.gl/q4GzhP

Perintah Allah Ta'ala dalam Al Qur'an telah banyak menyerukan kepada hamba-Nya agar menjadi pribadi yang bertakwa . Allah Ta'ala telah memberikan banyak kunci dan jalan agar seorang muslim menjadi muttaqin (orang yang bertakwa). Antara lain dengan perintah menjalankan syariat Allah dengan kaffah (menyeluruh), misalnya berpuasa di bulan Ramadan.
Firman Allah Ta'ala :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al Baqarah ; 183).

Pribadi yang bertakwa inilah pribadi terbaik yang diinginkan Allah Ta'ala. Dan, para Rasul hingga orang beriman terus mengejar predikat sebagai hamba terbaik. Telah banyak hamba Allah yang terbaik yang telah mendahului kita. Mereka dari kalangan nabi, orang-orang shidiq, para syuhada’, dan orang-orang saleh .

Lantas, apakah kita, manusia yang hidup di akhir zaman ini, masih memiliki peluang untuk menjadi hamba yang dikasihi dan dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala? Ketahuilah, Allah subhanahu wata’ala tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya dalam kebingungan dan kesulitan, selama ia bersungguh-sungguh ingin menggapai ridha-Nya. Dan sesunggguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Pada setiap masalah, Allah subhanahu wata’ala siapkan solusi.

Allah subhanahu wata’ala berjanji dalam firman-Nya,

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ  

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5)

Lalu, bagaimana cara menjadi hamba Allah yang terbaik? Menjadi hamba Allah yang terbaik, karakternya dijelaskan dalam Surat al-Furqan ayat 63 – 74. Karakter-karakter tersebut, disebutkan sebagai berikut :

1. Tawadhu’, tenang, dan bermartabat
Hamba yang dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala adalah kaum beriman yang berkarakter tawadhu’, beradab, tenang dalam bersikap, dan tetap bermartabat di tengah kehidupan sosial.
Allah Ta'ala berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا  

“Adapun hamba-hamba Dzat Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” (QS. Al-Furqan: 63)

2. Mengabaikan sikap orang jahil
Bagaimana cara menyikapi jika diajak bicara oleh orang jahil tentang hal-hal yang tidak bermanfaat, mengundang maksiat, atau bahkan menyesatkan? Caranya dengan tidak menggubris pembicaraan mereka. Menjauhkan diri dari kerumunan mereka.  Orang-orang jahil tetap harus didakwahi supaya kembali ke jalan yang benar. Pelaksananya adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mendakwahi mereka. Namun jika bukan dalam rangka mendakwahi mereka, atau tidak memiliki kemampuan untuk mendakwahi mereka, sikap yang paling tepat adalah menjaga lisan dan mengabaikan obrolan mereka. Menolak kejahatan mereka dengan kebaikan atau cara yang baik.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

“Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan ‘salam.’” (QS. Al-Furqan: 63)

Dalam ayat lain Allah subhanahu wata’ala juga berfirman,

وَاِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ اَعْرَضُوْا عَنْهُ وَقَالُوْا لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْ ۖسَلٰمٌ عَلَيْكُمْ ۖ لَا نَبْتَغِى الْجٰهِلِيْنَ

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.’” (QS. Al-Qashash: 55)

3. Semangat salat malam
Kekasih Allah Subhanahu wa ta’ala sangat paham kenapa mereka tidak ingin meninggalkan salat malam. Ada banyak sekali keutamaan shalat malam dalam al-Quran dan hadis shahih.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا
“Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.” (QS. Al-Furqan: 64)

4. Sungguh-sungguh menjauhi azab
Hamba Allah yang terbaik sangat takut jika Allah Ta'ala menimpakan azab kepada mereka. Sehingga mereka sangat sungguh-sungguh dalam menjauhi segala bentuk perbuatan yang menjadi sebab datangnya azab.
Allah Ta'ala berfirman,

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ اِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ۖ
Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal".(QS. Al-Furqan: 65)

5. Semangat berinfak
Ibadurrahman adalah hamba beriman yang bijaksana dalam berinfak. Mereka semangat berinfak, namun tidak berlebihan juga tidak pelit.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.” (QS. Al-Furqan: 67)
6. Tidak menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Siapa pun yang ingin mendapat kehormatan sebagai hamba Allah Ta’ala yang terbaik, haram bagi dirinya untuk menyekutukan Allah dalam bentuk apa pun.
Allah berfirman,

وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ
“Dan orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sembahan lain.” (QS. Al-Furqan: 68)

7. Tidak menumpahkan darah yang diharamkan Allah
Menumpahkan darah adalah perkara yang besar. Risikonya berat. Mereka yang mendapat keutamaan sebagai ibadurrahman sangat hati-hati dalam persoalan menumpahkan darah yang diharamkan Allah Ta’ala. Darah orang yang diharamkan oleh Allah untuk ditumpahkan, hanya boleh ditumpahkan dengan cara yang sesuai dengan syariat Islam, seperti hukuman qishash.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ  

“Dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar.” (QS. Al-Furqan: 68)

8. Sungguh-sungguh menjauhi zina
Zina merupakan dosa besar. Dapat mengantarkan seseorang pada kekafiran. Karakter hamba Allah yang terbaik adalah menjauhi segala bentuk pintu kekufuran. Termasuk perbuatan zina.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا يَزْنُوْنَۚ  

“Dan tidak berzina.” (QS. Al-Furqan: 68)

9. Hamba Allah menjauhi kebatilan dalam perkataan dan perbuatan
Hamba yang dicintai dan dikasihi Allah Subhanahu wa ta’ala memiliki karakter selalu menjaga lisan. Tidak memberikan kesaksian palsu. Tidak berdusta. Menjauhi forum-forum kemungkaran. Menolak ajakan keburukan dengan kebaikan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙوَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙ وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ    مَرُّوْا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)

10. Hamba Allah selalu tunduk pada Syariat Islam
Tugas utama seorang hamba adalah beribadah, menyembah Allah Subhanahu wa ta’ala. Seluruh bentuk dan tata cara beribadah telah terangkum dalam sebuah konsep panduan hidup yang kita kenal dengan syariat Islam.
Maka, karakter hamba Allah Ta’ala yang terbaik adalah selalu tunduk terhadap seruan dari al-Quran dan hadits yang menjadi sumber pokok syariat Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوْا عَلَيْهَا صُمًّا وَّعُمْيَانًا

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 72)

11. Hamba Allah peduli terhadap kebaikan bersama
Hamba yang dicintai dan dikasihi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sosok yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Saling berbagi. Peduli dengan sesama dalam suka dan duka. Berbahagia jika saudara seiman bahagia, bersedih jika saudara seiman bersedih.
Seorang yang berkarakter terbaik sangat gemar membantu sesama. Sangat memperhatikan saudara. Mereka saling mendoakan.

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Furqan: 74)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‌خَيْرُ ‌النَّاسِ ‌أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain.” (HR. Al-Qadha’i dalam kitab Musnad asy-Syihab No. 1234. Hadis hasan)

Muslimah, memang tidak mudah menjadi hamba yang dicintai dan dikasihi Allah Subhanahu wa ta’ala. Untuk mewujudkannya perlu perjuangan dan pengorbanan. Maka, di sisa-sisa usia kita ini, mari bersama-sama semangat berusaha meraih kemuliaan dari Allah subhanahu wa ta’ala sebagai hamba yang dicintai, dikasihi, dan diridhai-Nya. Aamiin.

Wallahu A'lam
Previous Post
Next Post